Beranda »

Delapan kebohongan ibu

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Theo on Twitter

Oktober 2010
M S S R K J S
« Agu   Feb »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Theomerentek.blogspot.com

theo

Kategori


Dalam kehidupan kita sehari – hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia

terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya…..

Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah didunia.

cerita bemula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki – laki disebuah keluarga yang miskin.

Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan.

Ketika makan ibu sering memberikan porsi nasinya untukku.

Sambil memindahkan nasi ke mangkukku ibu berkata :

“Makanlah nak, ibu tidak lapar….”——-

KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing dikolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera.

Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping aku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang ku makan.

Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata :

“Makanlah nak, ibu tidak suka makan ikan…”—-KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untukmenutupi kebutuhan hidup. Dikala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengna gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api.

Aku berkata : “Ibu tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.”

Ibu hanya tersenyum dan berkata :

“Cepatlah tidur nak, ibu tidak capek…”——

KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari ibu yang tegar dan gigh menunggu aku dibawah terik matahari selam beberapa jam.

Ketika lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental.

Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum.

Ibu berkata : “Minumlah nak, ibu tidak haus….!”—-

KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus sebagai merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan.

Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal didekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada disebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi.

Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata :

“Saya tidak butuh cinta…”—-

KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya untuk pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi kepasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekrja diluar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut, malahn mengirim balik uang tersebut.

Ibu berkata : “Saya punya uang…..”

KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master disebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa dari sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja diperusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku : “Aku tidak terbiasa….”——

KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat dirumah sakit, aku yang berada jauh diseberang samudra Atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibuku tercinta. Aku yang melihat ibu yang terbaring lemah diranajngnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar diwajahnya terkesan agak kaku karena sakti yang ditahannya.

Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuhku ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinag air mata.

Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, ibu tidak kesakitan….”——

KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN

Setelah mengucapkan kebohongannya yang ke delapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita yang diatas, saya percaya teman – teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan: “Terima kasih Ibu….”

Coba dipikir – pikir,

sudah berapa lamakah kita tidak menelpon ayah ibu kita….?

sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita?

Di tengah – tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribi – ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa dengan ayah ibu kita yangg ada dirumah.

Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia ada sisamping kita atau tidak.

Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari orang tua kita?

Cemas apakah orang tua kita sudah makan atau belum…..?

Cemas apakah orang tua kita sudah bahagia atau belum….?

Apakah ini benar….?

Kalau Ya…..coba kita renungkan kembali lagi….di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orang tua kita, lakukanlah yang terbaik.

Jangan sampai ada kata menyesal di kemudian hari…….

Iklan

1 Komentar

  1. Iuri berkata:

    photofunia is not so bad. Just try Picjoke.com they have some awesome effects also.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: